HSS Menuju Kabupaten Mandiri

MENUJU KABUPATEN AGROPOLITAN

YANG MANDIRI, UNGGUL DAN RELIGIUS

DI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

I.    PENDAHULUAN
Kabupaten Hulu Sungai Selatan terletak kurang lebih 120 Km dari Kota Banjarmasin Ibukota Propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah 1.804 Km2 berpenduduk sebanyak 207.422 Jiwa pada tahun 2007. Secara administratif terbagi dalam 11 Kecamatan dan 148 Desa/Kelurahan. Memasuki tahun 2009 sesuai dengan Amanat Undang-Undang No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional maka pada bulan September 2008 bertepatan 3 bulan setelah Bupati dan Wakil Bupati dilantik maka ditetapkan peraturan Bupati Hulu Sungai Selatan No 15 tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2009-2013.
A.    Visi, Misi
Visi Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah yakni :  “MENUJU KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN YANG AGROPOLITAN DAN RELIGIUS (PEMBANGUNAN PERTANIAN BERBASIS AGROINDUSTRI DAN KEAGAMAAN)”
Sedangkan Misinya adalah :
MEMANTAPKAN GERBANG PERKOTAAN BANUA LIMA PLUS CENTER MENUJU KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN YANG MANDIRI, UNGGUL, DAN RELIGIUS
B.    Agenda Pembangunan
1.    Menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang mandiri yang meliputi aspek pemerintahan daerah dan pemerintahan desa serta  masyarakat
2.    Menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang Unggul  yakni Meningkatkan daya saing yang tinggi dengan mengembangkan keunggulan kompetitif dan komparatif
3.    Menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang Religius yakni berkembangnya nilai-nilai relegius dalam kehidupan pemerintahan dan Masyarakat.
C.    Latar Belakang
Ditetapkan konsep agropolitan sebagai konsep pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah untuk menjawab hal-hal sebagai berikut :
a.    Otonomi Daerah secara lebih luas di-lounching pada saat menipisnya sumberdaya alam dan termasuk daya dukungnya.
b.    Sistem dan Kultur pertanian perdesaan masih bernilai ekstraktif tidak memberikan nilai tambah yang memadai bagi petani.
c.    Sektor Pertanian semakin ditinggalkan sehingga petani muda sangat sedikit pertumbuhannya.
d.    Banyaknya tenaga kerja perantau yang pulang kampung dan cenderung menjadi pengangguran tidak kentara maupun yang kentara dan mempunyai skill yang tidak memadai.
e.    Sektor pertanian mau tidak mau harus menerima limpahan tenaga kerja dari sektor lain yang mengalami krisis dan terbukti sektor pertanian mampu menampung dan berpotensi untuk dikembangkan.
f.    Penduduk Kabupaten Hulu Sungai Selatan 82% hidup bergantung dengan sektor pertanian.
D.    Identifikasi Masalah
Untuk menerapkan agropolitan kendala yang dihadapi antara lain :

a.    Infrastruktur Pertanian dan pendukungnya belum memadai (misalnya kemampuan penanganan jalan hanya 153 Km/tahun dari jalan Kabupaten yang panjangnya 749 Km yang kondisinya lebih dari 50% rusak sawah yang beririgasi teknis masih dibawah 7%.
b.    Sumberdaya Manusia pertanian yang mengusai skill masih sangat terbatas misal (PPL dirangkap untuk beberapa Desa).
c.    Belum adanya agroindustri yang memadai untuk menampung kelebihan produksi pada saat panen raya.
d.    Struktur APBD Kabupaten Hulu Sungai Selatan dalam rangka membiayai pencapaian agropolitan sangatlah terbatas sehingga diperlukan sinkronisasi dan sinersitas program. (PAD KAb Hulu Sungai Selatan saat ini masih pada 5-6 % prosinya dalam APBD).
e.    Tenaga Penyuluh Masih Kurang /dirangkap 45 Desa Kosong
f.    Skill Tenaga Kerja Yang Rendah .
g.    Masih Terbatasnya Lembaga Pelatihan di Daerah .
h.    Banyaknya jumlah tenaga kerja baru (Limpahan sektor lain ke sektor pertanian)
i.    Produk Pertanian belum tersentuh Nilai tambah yang memadai (Harga Anjlok saat panen)
j.    Supply kayu Legal  15000 m3,  permintaan /demand  48 000 m3/thn keadaan tahun 2008 (Sejak Januari Moratorium)
k.    Lahan kritis s/d sangat kritis  : 44.438 ha (BPDAS Barito Wilayah V Banjarbaru 2004)
l.    Jika tidak diantisipasi  hal ini bisa menimbulkan kerawanan sosial.
E.    Potensi Kawasan Agropolitan
a.    Luas Wilayah 1.804,94 Km2
b.    Jumlah Penduduk 207.422 Jiwa
c.    Pusat Perlintasan Darat (6 Kabupaten)
d.    Pusat Perlintasan Sungai ( 4 Kabupaten)
e.    Kawasan Rawa   1.010 Km2 (56 % Luas Wilayah) Lahan Lebak potensial (Pertanian, perikanan, peternakan lebih dari 50.000 Ha)
f.    Kawasan  Hutan Produksi Tetap seluas 9.568 Ha
g.    Kawasan  Hutan Produksi Terbatas seluas 1.925 Ha
h.    Kawasan  Hutan  Lindung seluas 14.625 Ha
i.    Kawasan  Hutan Cagar Alam  seluas  370 Ha
j.    Kawasan  Hutan Konversi seluas 12.015 Ha
k.    Hijauan Ternak mampu mensupply 71.000 Ekor Sapi (saat ini baru 12.000 ekor sapi)
l.    Kawasan Rawa   1.010 Km2 (56 % Luas Wilayah) Lahan Lebak potensial (Pertanian, perikanan, peternakan lebih dari 50.000 Ha)
m.    P4S/Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (sudah ada 1 buah (saat ini dirumah petani, renc minimal setiap zona 1 lembaga P4S)
II.    KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN

A.    Protap Pembangunan
Protap (Prosedur Tetap) Pembangunan Gerbang Perkotaan Menuju Banua Lima Plus Center yang telah diimplementasikan pada periode 2003 – 2008 terbukti ampuh sebagai  strategi pembangunan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Keberhasilan pembangunan dengan mengusung konsep di atas menjadi inspirasi utama untuk kembali memantapkan pada periode 5 tahun ke depan.  Gerbang Perkotaan Menuju Banua Lima Plus Center ini akan semakin dimantapkan dan dipadu dengan sasaran makro menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang Mandiri, Unggul dan Religius, sehingga konsep ini dianggap mampu dimanifestasikan dalam memperkuat visi dan misi pembangunan.
Gerbang Perkotaan Menuju Banua Lima Plus Center haruslah dipahami dan dijadikan nilai universal atau sebagai pedoman kebijakan pembangunan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dalam mengarahkan dan memfokuskan arah kebijakan pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Mandiri, Unggul dan Religius.

1.    GERBANG singkatan dari ”gerakan pembangunan”.
Pendekatan pembangunan partisipatif, sinergis yang melibatkan : Masyarakat, swasta dan pemerintah.  Pendekatan ini dipakai  untuk memberdayakan masyarakat dan swasta serta ingin membina tanggung jawab pembangunan secara bersama-sama. Sehingga akan tumbuh sense of belonging, sense of participation dan sense of responsibility terhadap pelaksanaan pembangunan di daerah yang pada gilirannya akan menjamin terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
2.    PERKOTAAN singkatan dari ”Pegunungan, Rawa dan Kota”.
Yakni pendekatan kewilayahan, berdasakan kondisi geografis yang terdiri dari tiga karakteristik : pertama, daerah pegunungan yang luasannya kurang lebih 30% dari wilayah yang ada;  kedua, dataran sedang (perkotaan) yang luasannya 20%, dan yang ketiga; daerah rawa meliputi 50% dari total wilayah keseluruhan yakni 180.494 Ha (1.804,94 km2).
Makna perkotaan bukan hanya mengandung sebuah pendekatan pembangunan kewilayahan tetapi yang lebih urgen mengandung nilai kesatuan, dimana anggapan masyarakat masih ditemukannya sikap trikotomi/dikotomi, yakni membedakan masyarakat pegunungan Meratus (dayak/bukit) , masyarakat kota (darat), dan masyarakat baruh (rawa nagara).  Dengan konsep perkotaan ini maka diharapkan sikap tersebut diatas dapat merubah paradigma masyarakat yang berangsur melebur dalam wadah kesatuan masyarakat Hulu Sungai Selatan yang mandiri, unggul dan religius.
3.    BANUA LIMA (Roh Motivasi)
Mempunyai makna ” Bahwa Masyarakat Hulu Sungai Selatan harus mempunyai semangat (roh motivasi) agar lebih unggul dari masyarakat lima Kabupaten didaerah Hulu Sungai”.  Motivasi ini merupakan need of achievment / n-ach-nya masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Yakni semangat pembangunan yang digelorakan untuk mengejar berbagai ketinggalan sehingga menjadi lebih mandiri, unggul dan maju bagi semua elemen baik birokrat, masyarakat dan dunia usaha swasta.
Motivasi pembangunan diatas diutamakan untuk membangkitkan dari ketertiduran yang cukup panjang dan terlena oleh sumber daya alam yang melimpah. Jika hanya mengandalkan sumber daya alam yakni hutan dan tambang yang sekarang over eksploitasi, maka dalam jangka panjang akan berdampak pada kelangkaan sumber daya alam itu sendiri (scarcity) dan memberikan efek yang buruk bagi lingkungan hidup berupa pada perubahan iklim dan pemanasan global yang sangat ekstrim (the climate change and the global warming).
4.    PLUS CENTER (Taktik dan Strategi)
Bermakna ”Hulu Sungai Selatan kedepan harus mampu menjadi pusat pertumbuhan kawasan Banua Lima dengan kegiatan ekonomi, sosial dan budaya. Applikasi Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebagai kutub pertumbuhan mengingat posisi yang sangat strategis menghubungkan sebagian besar daerah kabupaten kota untuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Selatan baik dari sisi darat maupun angkutan sungai yang mendukung pengembangan ekonomi masyarakat seperti pusat pelayanan jasa, pusat kegitan ekonomi dan pusat kegiatan sosial lainnya.
B.    Kebijakan Lima Tahunan
1.    Arah Kebijakan  Pembangunan Ekonomi :
a.    Meningkatkan  investasi .
b.    Meningkatkan  kualitas SDM .
c.    Meratanya distribusi pendapatan.
d.    Terbentuknya  Zona-Zona sektor pertanian Unggulan
e.    Meningkatnya nilai Tambah  (Agroindustri)
f.    Peningkatan skala ekonomi (PDRB) haruslah pula diikuti oleh semangat religius
2.    Tujuh strategi kebijakan Lima Tahunan yakni :
a.    Strategi 1 Peningkatan Kemandirian Pemerintah Daerah
b.    Strategi 2 Peningkatan Kemandirian Pemerintah Desa
c.    Strategi 3 Peningkatan Kemandirian Masyarakat
d.    Strategi 4 Peningkatan Keunggulan Kompetitif
e.    Strategi 5 Peningkatan Keunggulan Komparatif
f.    Strategi 6 Peningkatan Kehidupan Organisasi Pemerintah yang berkarakter Religus
g.    Strategi 7 Peningkatan Kehidupan Masyarakat yang Religus

III.    PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN
A.    Konsep Pengembangan Agropolitan

Pengembangan agropolitan pada dasarnya adalah strategi dan upaya untuk pengembangan perdesaan yang berbasis pertanian dengan dukungan  pelayanan perkotaan khususnya teknik berbudidaya pertanian, industri pengolahan hasil pertanian, modal kerja, dan informasi pasar di kawasan perdesaan dengan  pendekatan kawasan zona untuk fasilitasi agribisnis.
Konsep dasar agropolitan adalah membentuk zonasi /Sentra Produksi pertanian yang terintegrasi mulai dari budidaya, pengolahan atau agroindustri dan pemasaran yang langsung dapat mengakses Pasar di dalam dan luar Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
B.    Pusat Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten

Dibagi menjadi 4 yakni :
1.    Pusat Agropolitan Kawasan Dataran Koridor Taniran Berpusat di STA Taniran meliputi sebahagian Kecamatan Kandangan sebelah Timur dan Utara, Kecamatan Angkinang, Kecamatan Telaga Langsat dan Kecamatan Padang Batung Sebelah Utara. Kawasan ini juga di design sebagai salah satu titik simpul utama transito barang dan jasa
Komoditi unggulan meliputi : pertanian tanaman pangan, hortikultura,
Zonasi: paking produk, perdagangan,  pergudangan barang input produksi dan produk agroindustri,  makanan ringan dan minuman botolan/kaleng.
2.    Pusat Agropolitan Kawasan Dataran Koridor Kandangan berpusat di Kandangan meliputi sebahagian Kecamatan Kandangan, Kecamatan Sungai Raya dan Kecamatan Padang Batung sebelah  Barat , Kecamatan Simpur  dan Kalumpang. Komoditi unggulan meliputi : pertanian tanaman pangan, hortikultura, penggemukan sapi,   kelapa dalam dan pengolahan karet.
3.    Pusat Agropolitan Kawasan Pegunungan Koridor Lumpangi berpusat di Lumpangi meliputi Kecamatan Loksado, sebahagian Kecamatan Padang Batung sebelah Timur dan Selatan  dan Kecamatan Telaga Langsat Sebelah  Selatan. Komoditi unggulan meliputi : pertanian tanaman pangan, hortikultura, kayu manis, karet, dan tanaman hutan lainnya. Zonasi : penyangga hutan lindung, agroforestry,  agroindustri barang setengah jadi, agrowisata dan Pusat Konservasi Sumber Daya Alam.
4.    Pusat Agropolitan Kawasan Ekonomi Sungai berpusat di Pasar Negara meliputi Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara, Daha Barat, sebahagian Kalumpang sebelah Barat dan Utara serta sebahagian Kecamatan Kandangan sebelah Utara. Komoditi unggulan meliputi : pertanian tanaman pangan, hortikultura,peternakan kerbau rawa itik, pembesaran ikan,  hutan kebun (agroforestry) tanaman rawa, dan sawit. Zonasi: agroforestry agroindustri barang setengah jadi, agrowisata rawa dan pertukangan meubel serta pusat koservasi kawasan rawa.


C.    Komoditi Unggulan dan Arahan Zonasi Agroindustri Unit kawasan Pengembangan Agropolitan


D.    Langkah-Langkah Untuk Menjadikan Kabupaten  Agropolitan Yang mandiri Unggul dan Religius maka telah dilakukan beberapa upaya yakni :

1.    Pemaparan RPJMD Kabupaten Agropolitan di depan DPRD Kabupaten  Hulu Sungai Selatan.
2.    Pengukuhan Program Kerja SKPD Kabupaten Agropolitan oleh Gubernur Kalimantan Selatan
3.    Penetapan Zona Agropolitan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia.
4.    Expose RPJMD Kabupaten Agropolitan di depan SKPD dan Gubernur Kalimantan Selatan dalam rangka Sinkronisasi dan Sinergisitas Program.
5.    Gelar Kesiapan dan Kontrak Kinerja SDM Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan menuju Kabupaten  Agropolitan di hadapan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
6.    Sedang dibahas Konsep Raperda Agropolitan di DPRD Kabupaten  Hulu Sungai Selatan.
7.    Expose RPJMD Kabupaten Agropolitan di Bappenas dalam rangka Sinkronisasi dan Sinergisitas Program
IV.    KESIMPULAN
•    Program Agropolitan merupakan sebuah solusi untuk employment dan peningkatan ekonomi daerah.
•    Infrastruktur yang terbatas merupakan kendala untuk pengembangan kawasan agropolitan.
•    Struktur PAD dalam APBD Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk membiayai pengembangan kawasan tidaklah mencukupi.
•    Untuk mengembangkan agropolitan perlu program terpadu antar sektor agropolitan dan lintas Daerah dan lintas Pemerintahan.
•    Sinergisitas dan sinkronisasi program adalah sebuah kunci menuju Kabupaten agropolitan yang dapat kembali menjadikan sektor pertanian sebagai pengungkit ekonomi Daerah dan Nasional.

Kandangan, 15 Maret 2009
Bupati Hulu Sungai Selatan
Dr.H.Muhammad Safii, MSi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: